SELAMAT DATANG KE BLOGNYA ANAK ITK 35...

Blog ini buat and khusus buat Mariners 35: yang jomblo, yang dah merit, complicated, yang perutnya dah endut kena kolesterol, masih bugar silahkan abang dan mba isi cerita-cerita seru kita semua... Salam ITK !!!

Hayu pada ngisi dunk...

Yang punya cerita+foto, sementara bisa kirim via email : hatasura@yahoo.com (Indra)
madduppa@yahoo.com (Hawis)
suryanw@yahoo.com (Surya)
r_langstrump@yahoo.com (Pitak)

Friday, October 24, 2008

Ngelibur Murah Meriah Nyok...

LIBURAN KE PULAU PRAMUKA (RP 176.000 Only)


Teman-temanz, apa ada yang sedang jenuh, BT di kantor karena rutin pergi pagi pulang sore “Eight to Five”? Ini ada satu alternatif jalan-jalan yang patut dicoba karena murah dan menyenangkan lho...

Awal Perjalanan

Tanggal 3-4 Oktober 08 kemarin, gw cabs ke Pulau Pramuka, wilayah kekuasaannya saudara Mikael Prastowo dan org2 TERANGI (include Cepo). Awalnya se dulu karena dulu diajak untuk ngeliat potensi ekowisata dan marketingnya “ELANG EKOWISATA” provider wisata dan binaannya TERANGI buat penduduk Pramuka. Nah sekarang sehubung keterusan ceplas-ceplos ya sekalian bawa kelompok turis lokal deh…

Perjalanan di mulai dari Pelabuhan Muara Angke. Sehabis naek Bajaj, nyisihin duit 15 rb dan selama 20 menitan, nyampe di Muara Angke dan kapal ojek ke Pramuka dah penuh (maklum


lah, masih deket Lebaran). Nah keberangkatan yang jam 6.45 an ini harus diatur ma teman-teman, so berangkatlah (kalo dari Bogor) dengan kereta pertama (jam 4.20an dari Bogor).

Seperti biasa 7 dari 10 anggota kelompok muntah di kapal (biasalah hiburan!). Mereka
sebelumnya kenalan nanya gw. Nah gw bilang ya kalo gw dari ITK, dan mereka manggut-manggut setuju mahfum dengan mata mereka yang besar (maybe untuk ketidakmuntahan gw; atau maybe manggut-manggut heran
juga ada yang milih jurusan yang ga ada record nya di hardisk mereka masing-masing).

Jam 10 atau 3 jam dari kapal membelah ombak, sampailah di Pulau Pramuka. Bayar kapal ojeknya murah, cuma 30rb aja – dapat proteksi life jacket dari gabus pula, warna orange kaya jaket ITK 35. Sayang ga bisa diambil kaya kita ngambil sendal hotel kalo nginep di hotel.

Tiba di Pulau

Sehubung kita dah booking kontrakannya anak TERANGI disana, mampirlah kita di ELANG EKOWISATA. Bertemu Komeng, sang ketua yang memang dah tau kegiatan kita disana sehubungan komunikasi intensif kelompok (persiapan matang donk coy…).

Nah sebagai info, di Pulau Pramuka banyak resort, pondokan, kontrakan 1 hari yang bisa ditanya via Komeng ini kalau belum tau info. Harga mulai Rp 250.000 / kontrakan, sampai Rp 350.000 / kamar AC. Pokoknya mau gaya backpackers sampai high end bisa lah. Nah sehubung waktu itu musim liburan, penuhlah penginapan-penginapan disana. Untunglah jaringan kita kuat dan luas, dari Sabang (Pading bisa dimanfaatkan) sampai Biak (si Adit 36). Unsur jaringan dalam ilmu bisnis dan marketing memang merupakan unsur signifikan yang menentukan hasil – hehehe…

Kita lalu istirahat sebentar en makan (supermie dan nasgor karena sedihnya warung makan banyak yang tutup), lalu kontak lagi si ELANG LAUT buat rencana snorkling en sewa perahu dan jam 1 dah siaplah kita. SURPRISE banget, ternyata gw ketemu ma satu mata rantai jaringan potensial lagi. Ga nyangka ketemu ma anak SMA Regina Pacis Bogor 98 yang ma tiga temennya
mau snorkling juga. Semuanya cewek lagi dan jujur aja menambah kecerian kelompok kami yang
80% nya cowok begundal.

Ini untuk keterangan peminjaman alat dan perahu : 1 set alat snorkling lengkap (fin, masker, life jacket bila perlu) Rp 30.000 dan sewa perahu 250 rb untuk ½ hari-dari jam 1 pe jam 6 sore. Perahu bisa diisi 15-20 orang-an kira2.

Nah snorklingnya cukup menyenangkan (kurang menyenangkan karena ga bawa nasi padang di kapal). Pertama kita diajak ke lokasi karang lunak (soft coral) – lalu ke ke lokasi karang keras (hard coral). Tipe-tipe karangnya cukup representatif : dari karang otak, branching, masif, lembaran dan lain-lain. Kedalaman rata – rata 3-6 meter.

Kena Bulu Babi

Secara kebetulan, 2 orang dari rombongan cewek ada yang terperosok kena bulu babi (Diadema setosum). Mungkin karena panik waktu snorkling melewati bulu babi dan walhasil malah ngegerakin kaki dan tangan secara vertikal. Sebagai langkah pengobatan, mereka yang kena musibah bagian yang kena diketruk-ketruk pake gagang fin. Lalu abis itu disiram sedikit pake larutan cuka agar racunnya menjadi netral. Temen kita itu merintih-rintih, tapi lebih baik menurut kita-kita daripada meriang di waktu malam.

Nah menurut gw daripada temen2 sekarang kalo jalan ke mall, cobalah berkunjung kesini. Memang lebih jauh daripada mall, tapi habis ngeliat karang, sponge warna-warni pasti waktu pulang ke kantor dapet energi chargeran baru. Kadang bukannya kita tidak bisa, tapi di kepala kita isinya males-malesan saja. Nah kalau sudah gitu temen-temen harus buletin tekad lho. Orang bekerja perlu direcharge secara spirit sekali-kali. Berlibur merupakan hal yang tepat buat merenung mengapa, untuk apa kita bekerja.

Sambil kadang-kadang minum air laut (katanya baik untuk kesehatan) waktu snorkling, kita berlanjut ke Gosong Balik Layar, Ke Gosong Pasir Putih en ke Pulau Semak Daun buat nyantai. Di Pulau Semak Daun waktu sudah agak sore, dan matahari mulai teduh – jadi kita memanfaatkan waktunya untuk main pasir dan foto-foto. Di Semak Daun gw coba praktekan ilmu Mariners; nyari kerang menurut teori “preferensi habitat”. Menurut teori di sekitar garis ± 1 meter dari batas pasang surut kalau pasirnya kita gali, maka kita akan menemukan banyak kerang. Di pantai di Taman Nasional Bali Barat gw diajarin ma sang jagawana dan dalam tempo 30 menit 1 ember kerang terkumpul dengan sukses buat makan malam kita. Nah di Semak Daun ini sambil ngegali-gali kaya anjing gw juga ceramahin temen-temen sebelah gw tentang teori itu. Akhirnya dia terprovokasi juga ma anak ITK dan ikut ngegali. Walhasil dalam waktu 10 menit kita nemuin 4 butir kerang. Secara teori memang terbukti namun secara hasil agak mengecewakan, mungkin karena sampel lokasi kurang tepat.

Pulang pake perahu dah sore, sambil ngehadap ke belakang kita potret-potret sunset dari kapal. Walau tertutup awan, keindahan alam tetap nyata. Toh mendung juga fantastik karena merupakan bagian dari fenomena alam yang diciptakan Tuhan. Udara yang sudah agak dingin bercampur bau asin air laut mengiringi perjalanan pulang kita. Baju basah yang menempel di badan pelan-pelan mengering terkena hembusan angin.

Mancing di Dermaga sambil Liat Bintang

Pulang sore, setelah mandi-mandi kiat istirahat dan jam 7 dah ngumpul lagi, kita ma rombongan cewek tadi. Sebelumnya gw dah cari info (dah diprovokasi ma Mikael Prastowo) dan berhasil mendapatkan bandeng cabut duri yang terkenal itu dari Pulau Pramuka. Walhasil jam 7 kita dah nongkrong di warung, lesehan sambil nunggu orang-orang bakar bandeng. Nahan asap sekitar 45 menit (well, karena rupanya si warung dapet order sejublek karena gada warung laen buka. Satu lagi teori marketing yang baik : ambil kesempatan dimana orang lain tidak bermain – sehingga keuntungan bisa dimaksimalkan).

Bandeng bakar cabut duri benar-benar enak. Disantap dengan rasa gurih, sedikit manis dan asam, dengan sepiring nasi dan sambal kecap – rasanya beda banget ma ikan bakar di tempat lain. Memang makannya sambil ngaprak dan minumnya cuma teh botol (sial banget karena teh botol isinya cuma dikit – lawan cabe sedikit aja dah kalah).

Full with activity, setelah ngobrol dengan temen2 gw dari kelompok cewek – karena mereka pulang pagi esok harinya, kita ngelanjut nongkrong di Dramaga. Maksud hati mancing ikan, tapi stupidnya gada yang bawa umpan. Dah dibilangin tuk beli es dan cumi di Muara Angke tapi gara-gara telat pada gada yang beli umpan, walhasil mancing pake kepelan nasi. Secara logis pikir aja deh : kalo elo ikan waras, lu pilih mana makanan loe : udang nan lezat atawa nasi kepel? Jadi secara jelas sudah ditakdirkan hasilnya, walau olahraga mancing tetap berjalan. Ngelempar, narik, ngulur benang kenur, dan maki-maki sedikit kalo kailnya nyangkut.

Mancing bukan kegiatan utama kita juga. Sehubung tidak ada angin sama sekali, betah juga nongkrong malem-malem sambil liat alam semesta. Kalo elo idup di Bogor atawa Jakarta jelas langit yang clear terang benderang bukan pilihan. Disini langit sangat jelas. Bintang-bintang bersinar terang dan beberapa kali gw liat benda langit yang ngegores langit. Maybe ada batu angkasa yang terbakar dan jadi debu sebelum nyampe ke bumi. Nah sempet juga gw mikirin kehidupan disini. Juga rasanya haus ilmu pengetahuan dari jaman SMA, mahasiswa belum berhenti. Masih banyak yang kita engga tau ttg alam semesta ini dan dalam keadaan seperti ini tampaknya keinginan itu muncul lagi.

Sebagai kompensasi haus bagi-bagi ilmu pengetahuan, gw nerangin ke kiri dan kanan tentang bioluminesence ubur-ubur, kehidupan plankton dan cara menangkap cumi-cumi dengan menggunakan cahaya sebagai atraktor. Sempet juga chatting pake HP malem-malem – nyoba2 sinyal, ngehubungin orang di luar sana yang ternyata belum tidur dengan alasan yang berbeda.

Pulang malem langsung tidur, dan paginya liat penangkaran penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Penyu sisik adalah penyu terkecil di dunia yang sisiknya paling bermotif dibanding penyu lain. Penyu sisik adalah karnivora, makan ikan dan udang-udangan dan menurut penelitian gw yang gagal dijalankan di MST, bahwa memerlukan sponge sebagai secondary diet, sebagai makanan alami yang mengandung antibiotika. Disini penyu-penyunya beberapa terserang jamur di bagian mata. Mungkin kalau diberi diet tambahan sponge tertentu maka daya imun si penyu akan lebih baik.

Goin Home...

Lalu pagi itu sehabis liat penyu kita ngelilingin pulau en ngeliatin orang berjubel naek kapal ojek lagi. Sampai 2 kapal, dari yang biasanya 1 kapal aja. Sungguh berkah turis bagi penduduk pulau ini, walau sebaiknya penduduk bisa memiliki sediri cottage-cottage nya, agar omzet kembali kepada pulau. Tapi minimal warung dapet omzet besar liburan ini – walau kalau informasi ekowisatanya lebih jelas, maka si warung bisa menampung turis-turis yang makan supermie aja di penginapannya gara-gara ga tau cari warung di pulau.

Siang diisi bermalas-malasan di bawah pohon cemara dekat pantai, menghindar dari panas siang. Tidur-tidur ayam, tak terasa sudah jam 12 dan harus siap-siap pulang. Sambil membayar Rp 250.000 ke yang bertanggung jawab pada kontrakan TERANGI (selama orang –orang TERANGI berlibur), kita berjalan ke Dramaga. Kita mengusapkan selamat tinggal kepada ELANG EKOWISATA dan setelah kapal ke 4 datang, kita masuk ke kapal ojek (makan antimo dulu kali ini). Bye Pulau Pramuka.

Kalau dihitung-hitung, dari Muara Angke sampai balik lagi Ke Muara Angke, total kita menghabiskan uang Rp 176.000, include : kapal ojek PP, sewa kapal snorkling, peralatan snorkling lengkap, sewa guide, sewa kontrakan, makan lengkap di pulau (plus bandeng bakar), isi aqua galon, dll. Lengkap pokoknya. Ngeliat dari harga dan apa yang didapat, kayanya worthed loh teman-teman kalau pengen mencoba.

Nah buat gw liburan kali ini, ada bahan-bahan refleksi yang bisa diambil untuk diri sendiri dan bahan tambahan untuk nanti berdiskusi dengan ELANG LAUT / TERANGI untuk pengembangan ekowisata berbasis kemasyarakatan di Pramuka. Apa ada yang minat ke Pulau Pramuka lagi nanti? Ayo kita tandatangan petisi donk semoga si Toto berkenan mengundang kita datang kesana :P

Salam,
Indra NH – C06498082
Prudential Life Assurance (with a must live motivation)
RMI - The Indonesian Institute for Forest and Environment (with a non must live motivation)

:P


Untuk Informasi Pulau Pramuka, segera sekarang juga hubungi

ELANG EKOWISATA 021 70317235

KOMENG 08138283883

Penawaran terbatas !!!

No comments:

Song for The Month

Song for The Month
KLA Project coy