SELAMAT DATANG KE BLOGNYA ANAK ITK 35...

Blog ini buat and khusus buat Mariners 35: yang jomblo, yang dah merit, complicated, yang perutnya dah endut kena kolesterol, masih bugar silahkan abang dan mba isi cerita-cerita seru kita semua... Salam ITK !!!

Hayu pada ngisi dunk...

Yang punya cerita+foto, sementara bisa kirim via email : hatasura@yahoo.com (Indra)
madduppa@yahoo.com (Hawis)
suryanw@yahoo.com (Surya)
r_langstrump@yahoo.com (Pitak)

Wednesday, October 15, 2008

Profesionalisme, Idealisme, atau Kesempatan?

---Sekedar renungan gw aja---
...Sebuah dilemma yang sempat menimbulkan kecamuk dalam hati gw sebelumnya...
C06498019

...tinggal di stasiun riset modern di pinggir pantai berpasir putih, lengkap dengan internet dan fasilitas ok lainnya, pagi sunrise, siang diving, sore sunset, malam barbeque, gaji bulanan ok punya...

Banyak orang yang bilang lulusan IPB, sebagai salah satu universitas terkenal di Indonesia dengan bidang agraris sebagai ujung tombaknya, akan bersifat flexibel. "Kerja kemanapun jadi!" Hal ini didukung dengan bukti dan fakta yang mana lulusan IPB memang dapat ditemui hampir dalam segala aspek pekerjaan, baik yang bersifat agraris maupun yang non-agraris.

Gw yakin dalam diri seseorang yang baru melaksanakan prosesi wisuda di GWW, dalam benaknya pasti akan banyak terpintas bagaimana dia akan mampu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, sesuai dengan topik penelitiannya, atau bahkan setidaknya masih nyambung dengan apa yang telah dipelajari dalam program studi yang telah diselesaikannya.

Ada pula yang memang masih semangat-semangatnya untuk bisa meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Getol mencari sponsor dan beasiswa. Ada pula yang langsung melanjutkan studinya ke pasca sarjana. Ada pula yang memilih studi lain sebagai bekal dan persiapan dalam menghadapi "real life".

Tak terkecuali, faktor lain yang menuntut seorang individu untuk segera bekerja, tak peduli apakah pekerjaannya berkaitan atau tidak dengan latar belakang studinya. Situasi finansial merupakan salah satu faktor krusial dalam membentuk kondisi ini.

Sebagai fresh graduate, kadang idealisme dalam mencari pekerjaan sangatlah naif. Saat gw lulus dari ITK, gw juga pernah berpikir, alangkah enaknya jika pekerjaan gw nanti ...tinggal di stasiun riset modern di pinggir pantai berpasir putih, lengkap dengan internet dan fasilitas ok lainnya, pagi sunrise, siang diving, sore sunset, malam barbeque, gaji bulanan ok punya...

Dengan berjalannya waktu pula, terdengar kabar dari teman-teman seangkatan gw: lagi freelance, jadi dosen, aktif di LSM, lari ke bisnis, kerja kantoran, usaha sendiri, kerja ma bokap, dll. Kadang terdengar selentingan (walaupun bercanda dan memang tiada lain maksudnya adalah bercanda) yang mengatakan, "wah, lo juga termasuk yang membelot", pembelot dalam konteks ini maksudnya bekerja ke bidang lain dimana ilmu ITK-nya tidak terpakai lagi.

Hmm, realita? Kalau dibilang kelautan lagi naik daun di Indonesia...ya mang bener, tapi…; kalau dibilang kerjaan yang nyambung dengan ITK hanya kerja di LSM atau organisasi yang berwawasan lingkungan dan alam...maybe...; atau setidaknya berperan sebagai staf akademisi sehingga bisa mentransfer ilmu ITKnya kepada orang-orang yang berminat...

Awalnya, gw sendiri termasuk tipe yang merasa kepalang tanggung kalau tidak melanjutkan studi gw ke jenjang yang lebih tinggi. Syukur, gw sangat beruntung sehabis lulus bisa langsung mendapatkan beasiswa untuk pasca sarjana. Polemik justru muncul setelah gw menyelesaikan studi S2 gw dan balik ke Indonesia.

Dengan idealisme yang tinggi, gw mencoba menjajaki setiap lowongan pekerjaan yang berhubungan dengan ilmu yang gw pegang. Sebulan, dua bulan, tiga bulan...1/2 tahun berlalu, menunggu dan terus menunggu...(kata teman gw seh ampe 1/2 taon nunggu panggilan kerja mahh masih wajar-wajar aja!). Penawaran pun ada walaupun bidang pekerjaan yang ditawarkan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan latar belakang studi gw.

Dalam hati gw berpikir, "alangkah sia-sianya gw jika tidak bisa mengamalkan ilmu yang sudah gw capai." Terlebih, gw sudah disekolahkan untuk memperdalam ilmu kelautan gw. Serasa tak berguna, sudah dibiayai sekolah, tetapi kok ilmunya tidak diamalkan!

Cita-cita ideal gw dulu memang tidak jauh dari dunia akademisi. Gw sangat enjoy pedagogy transfer ilmu kepada siapapun yang membutuhkan. Sayangnya, lowongan untuk itu pun belum tersedia di saat-saat gw menunggu. Bahkan, browsing lowongan hingga ke luar negeri, pun yang dibutuhkan adalah lulusan doctor. Dalam hati gw berkata: yah sabar aja menunggu, toh tiap tahun-nya banyak universitas di Indonesia yang melakukan rekrutmen.

Harus berapa lama lagi menunggu?
Di satu sisi tekanan untuk self-sufficient financially sudah memuncak. Hmm, apa gw harus mengambil tawaran-tawaran yang ada, meskipun bidang yang ditawarkan tidak ada kaitannya dengan spesialisasi gw? Bagaimana dengan perasaan bersalah sudah dibiayai kuliah tapi menyia-nyiakan ilmu yang didapat?

Teringat bincang-bincang terakhir saat perpisahan dengan pembimbing thesis gw. Saat itu beliau sempat bertanya apa yang akan gw lakukan setelah balik ke Indonesia. Gw memberikan jawaban sesuai idealisme gw. Tapi beliau memberikan suatu pesan "Kembangkanlah sayapmu selebar-lebarnya, dan terbang tinggi meraih apa yang kamu inginkan, masih banyak hal lain yang bisa dilakukan di luar sana." ...Ternyata gw juga pernah mendengarkan pesan serupa dari profesor yang membantu membimbing skripsi gw. Walaupun saat itu gw tidak terlalu mengerti atau tidak terlalu menghiraukan maksud dari email yang ditulisnya, karena kita hanya berkomunikasi dalam dunia maya, tidak pernah bertatap muka secara langsung.

Dalam kondisi dilema, gw sempat sharing dengan senior gw yang sedang menyelesaikan program doctoral. Sungguh tak disangka, beliau pun memberikan nasihat yang sama. Bahkan dari ceritanya, benar-benar memberikan inspirasi, semangat, dan arah yang lebih jelas kemana gw harus melangkah. Beliau pun berawal dari lulusan ITK Manado, yang setelah lulus sempat bekerja gono-gini, dari mandor tukang aspal jalan, hingga diterima menjadi dosen, mendapatkan beasiswa S2 di Swedia, dan kembali mendapatkan full scholarship S3 di Australia.

Pesan dari beliau sangat lugas.

"Sikat aja apapun kesempatan yang ada di depan matamu!” Apapun itu (pekerjaan) yang baik buat kamu, kenapa tidak kamu raih? Apalagi kamu bisa belajar hal lain yang sangat menunjang karir masa depan, jadi kamu ngga hanya ngerti masalah ikan di laut mulu, tapi nyambung berbicara dengan topik apapun yang diperbincangkan di jagad semesta ini."

"Toh kalau kamu risau dengan masalah idealisme, kamu masih akan bisa kembali ke idealisme-mu sendiri saat kamu sudah mapan secara finansial. Idealisme-mu bisa kamu wujudkan lagi nanti dengan men-sponsori proyek-proyek kelautan yang ada."

Kata-kata beliau benar-benar membuka mata dan telinga gw. Tak pernah terpikir untuk melihat masalah ini seperti apa yang dilihat dari kaca mata beliau. Pengalaman! Yap, jelas beliau sudah lebih banyak makan garam dalam menjalani hidup.

Secara keilmuan-pun menjadi lulusan master tidak ada bedanya dengan lulusan sarjana. Saat gw dulu kuliah di James Cook, kelas kita juga tidak dibedakan dengan anak-anak S1, dalam artian kita duduk di kelas yang sama dengan anak-anak yang mengambil program S1.

Bedanya? Pola pikir kita yang dituntut untuk lebih kritis dan independen. Maka itu kita diberikan tugas lebih banyak daripada anak-anak S1. Lebih menuntut critical thinking and analisis secara independent. Independent dalam hal managemen waktu, pencarian literatur, hingga mendapatkan kesimpulan dari suatu masalah secara ilmiah.

Alhasil, daya analisis dan pola pikir yang kritis ini akan sangat berguna untuk diterapkan dalam profesi apapun. Itu yang gw rasakan. Dan gw tidak merasa rugi telah mendapatkan pengalaman dan ilmu dari apa yang gw pelajari di negeri benua kangguru tersebut. Ilmu yang ada pada kita tidak akan hilang.

Jadi, kita lihat saja 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun ke depan bagaimana kontribusi dari para blue soul ITKers.

You and I should be...men with blue soul... (Soldier of Fisheries, by Nazdan 29)

-SW-

5 comments:

ITK 35 :) said...

Eh ni tulisan Suryaningrat kan ?

Hehehe ... iya men, gw sekarang gawe di keuangan, setelah malang melintang jadi marketing. Sebelumnya jadi trainer di MLM, dan sebelumnya lagi malah ngangkat sofa jadi kuli di mall Artha Gading sampe jam 10 malem jam kerjanya.

Nah kalo digabung sekarang jadi orang marketing yang jual produk invest dan asuransi, yang memberikan solusi2 juga bagi fundraising LSM dan manajemen organisasi; sesekali memberikan training PLH buat guru2 - dan kalo diajak ke laut en pantai so pasti bisa ngasih komentar keren mengenai bulu babi (Diadema setosum), dan kenapa plankton migrasi vertikal di waktu malam.

Cool banget kan? Hahahaa... pokoknya ilmunya kepake lah ... Keep doing what you can ... kalo mau dimana-mana juga bisa dengan segala cara yang berbeda

C06498082 / NH

Anonymous said...

Sebenernya jebakan2 (bahasa ekstrimnya) dualisme ato trialisme ato pilihan2 sulit itu pasti selalu ketemu.
Gw dulu, setelah lulus sempet 1 taon nongkrong di Pulau Sebesi jadi pendamping lokal dan bantu2 terangi untuk program lampung. 1 tahun berikutnya, gw dah ngelink ke INRR yang adalah konsultan lingkungan (gw ngebidangi hal2 yang berkaitan dg laut!). Coba kita liat, 2 jenis lembaga itu sama2 gerak di kelautan cuma yang satu lembaga swadaya yang notabene social oriented dan yang satu konsultan yang notabene profit oriented. Nah loh, terjebak lagi kan dalam pilihan2....
YAng mau gw sampein adalah jika tujuan pendidikan (halah..) itu untuk sesuatu yang sempit maka kita akan terjebak pada hasil yang sempit. Tapi Jika diletakkan pada kerangka pengembangan diri lebih jauhnya manfaat buat orang lain, gw yakin akan jadi maslahat.

BTW, gw lagi coba menggeluti ternak sapi pedaging dan domba pedaging. Jangan pada protes ya...huahahahaha....

-Zligy-

Surya said...

yoi NH, mumpung gw terisolasi di area Tuban coret yang ga ada hiburan apa2, jadi malam2 gw bisa tulis apa aja pemikiran2 gw.

Eh Zligy, sapi perah dong, kayanya Indonesia butuh fresh milk! Kalo ada gw mau jadi langganan tetap lah. Aku butuh susu! Aku butuh tulang yg kuat!

Novandiar Ashari Rahman Soleh said...

:)
pas banget
kalo gw liat surya, hawis, rama, adel, nisa, pading, dll
gw suka malu denger cerita lu pada.
antara malu, mupeng, and penasaran.
Gw masih inget .. 10 tahun yang lalu gw bingung memutuskan pilihan UMPTN no 1 apakah ITK atau pemulyaan tanaman. sebenernya sih gw lebih suka tanaman dibanding ikan, tapi gw pilih ITK dengan cuma 1 pertimbangan dan harapan ... pengen S2 ke jepang ...
Sekarangm jangankan ke jepang dengan status mariners, "bau amis" aja kagak :)
Salam banggaku untuk kalian wahai mariners
C09498070
"Trainer"

Anonymous said...

hm...melihat namaku disebut, sepertinya daku harus ikutan berkata-kata nih di media ini...

hal yang dirasa surya sebenarnya juga gue rasain kok. bahkan sebenarnya gue juga bingung mo ngapain. tulisan surya bener2 bikin gue kangen ma kalian semua.
sepulang gue dari negeri orang yang nun jauh di sebelah barat sana, gak juga memberikan gue kesempatan yang berarti untuk terus berkarya.
kerja malang melintang diberbagai NGO, bikin gue agak2 muak. tadinya gue tetep keukeuh dengan nama "freelance", tapi sampai bulan kemaren gue pikir judul itu harus segera dirubah, apalagi nantinya gue gak bisa keluar negeri karena "sunset policy" ini.
Anyway, sekarang gue pikir, memang, semua kesempatan yang ada, ambil!!!mungkin terdengar oportunis, tapi gak oportunis yang gak licik, kawan! sekarang, dengan kemampuan terakhir gue, gue coba untuk sekolah lagi, berkegiatan sedikit, paling gak, gue masih ada institusi yang menaungi dan bisa terus berkarya tapi lewat jalur edukasi.
jadi kawan, terus berkarya, dan gue juga bangga ma kalian semua. keep the faith lah!!
:)
Love you all!!
C06498079

Song for The Month

Song for The Month
KLA Project coy